12
tahun yang lalu…
Halo
kak, namaku Bintang. Umurku 10 tahun. Sekarang aku duduk di kelas 5 sekolah
dasar. Saat kakak membaca cerita ini, berarti aku mulai dewasa. Sudah saatnya
aku menggantikan peran para pahlawan yang gugur di medan perang. Tapi kali ini
berbeda. Aku tidak akan berperang melawan penjajah bersenjata di medan perang,
melainkan aku akan berjuang mempertahankan kehormatan bangsa yang telah
merdeka. Merdeka karena perjuangannya. Merdeka karena pejuang cerdik yang
memanfaatkan momen ketika negara sekutu di bom atom.
Waktu
sekolah di taman kanak-kanak dulu, akulah yang paling semangat belajar lagu
kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional lainnya. Suara lantangku
mengalahkan suara ibu guru Rini yang memberikan arahan saat mengajarkan lagu
Garuda Pancasila. Oh iya, dulu aku pernah bermain-main dengan lagu ini hehe.
Garuda
pancasila
Pa
tani nduwe ayam
Pa
nduwe pitik
Pa
tani nduwe paaaaaaa….tung.
“Patung
bergerak mati! 1! 2! 3! … 10!”
“LARRRIIIIIIII!!!”
Hitungan
ke-10 akupun berlari dikejar oleh musuh yang siap menangkapku. Kalau aku
tertangkap, bisa kalah aku dari permainan ini. Kakak pernah bermain seperti
itu? Berarti kita seumuran hehehe..
Aku
lahir tanggal 20 Mei 1996, tepat dihari Kebangkitan Nasional yang identik
dengan perwujudan Indonesia yang bekerja nyata dan berkarakter. Pokoknya
hari-hari nasional seperti itu juga merupakan suatu perwujudan kemerdekaan
Indonesia. Makin bangga aku lahir di bumi pertiwi ini. Mampu memimpin upacara
bendera di sekolahku dan turut hikmat dalam merenungi jasa-jasa para
pahlawannya. Tiap tarikan bendera untuk dikibarkan, pembacaan UUD 1945 dan
pembacaan Pancasila mengingatkanku selalu tentang Indonesia.
3
tahun yang lalu…
“Jogjaaaaaaa!!
I’m coming!!!” seraya aku berseru saat melihat pengumuman ujian tulis perguruan
tinggi negeri. Nyatanya aku akan merantau ke tanah Jawa lain. Mulai beradaptasi
dengan budayanya, unggah-ungguhnya dan menghormati segala bentuk keramahan yang
ditawarkan kota pelajar ini.
Pengalamanku
saat kecil mampu memupuk rasa cinta terhadap Indonesia. Aku tidak tahu apakah
dengan lahir dihari kebangkitan nasional, menjadi pemimpin upacara dan
mengikuti eksul baris-berbaris di sekolah termasuk dalam hal cinta Indonesia
atau tidak. Sebenarnya dalam mencintai Indonesia sendiri sudah banyak menjadi
konten di berbagai hal. Misalnya saja cinta terhadap budayanya atau
mengutamakan ke Bhinnekaannya, yang jelas sudah banyak orang membuat konten
cinta akan Indonesia. Dalam bentuk apapun karyanya, mulai dari film, lagu,
sastra dan sebagainya.
Kali ini dikota yang
sangat istimewa, aku diberi kesempatan untuk belajar banyak diluar zona
nyamanku. Seperti biasa, setiap mahasiswa baru diperkenalkan dengan himpunan,
unit kegiatan mahasiswa dan organisasi lain sesuai dengan minat bakatnya. Saat
itu diadakan expo UKM selama tiga hari. Dari ujung ke ujung mencari dan memilih
UKM yang tepat untukku, Entah mengapa hatiku tertuju pada unit kegiatan
mahasiswa sekber seni, khususnya kesenian tradisional. Well, kukira yang berminat
dengan UKM ini hanya sedikit, ternyata hamper 600 peserta mendaftar didalamnya.
Bayangkan saja, bagaimana UKM ini menampung begitu banyak peserta pada saat
itu.
“Iki hlo, UKM hits. Lek
gak melu sayang banget.”
“Opo
sih iki mas?”
“Iki
jenenge Unit Ketemu Jodoh.”
“Eh
hla kok ngawur! Iki jenenge Unite Kesenian Jawa.”
“Ohiya,
maksudku ngunu hlo! Ya ayo adek-adek silakan bergabung bersama kami. Yo k
segera daftarkan dirimu! Stand kami terbuka untuk siapa saja.”
Begitulah
promosi anggota baru ukm seni ini. Cukup menarik dan menghibur. Penuh dengan
semangat mengajak mahasiswa baru untuk bergabung di dalamnya.
2
tahun yang lalu..
Sudah
2 tahun aku menjadi bagian dari unit kesenian Jawa ini. Termasuk menjadi
pengurus harian di dalamnya. Ternyata banyak sekali kesempata yang membawa diri
menuju pengembangan yang lebih baik. Tadinya tidak mengerti apa itu imbal,
seleh, sekaran dan macam lainnya, kali ini menjadi lebih pro bermain gamelan.
Selama bergabung disini, akupun banyak mengikuti event kecil sampai besar. Dari
manggung di kampung seni sampai manggung di panggung mewah nan megah. Dari
event kampus sampai event event kerjasama dengan tempat pariwisata seperti
candi yang terkenal khas dengan kejawannya.
“Baik,
kali ini kesempatan bagi pengurus harian yang berangkat keluar.”
“Hah?
Keluar Jawa pak? Nanti berubah nama dong, Pak! Jadi unit kesenian….”
“Hahaha,
bukan. Ini lebih asik, ke luar negeri!! Wih ngeri nan gak weee…”
“Tenan
e pak? YA ALLAH!!” semua pengurus harian ukm sujud syukur dengan kesempatan
ini.
“Arep
nggo lagu nopo iki pak?”
“Mengko
sek, ta garapke lagu Lindur.”
“Weh
pak, ndak ngelindur tenanan ngko pas nabuh.”
“Hwahahaahhahaha!!!
Sek ngendang gegara ngelindur nabuhe bedhug nggih Pak!”
Seisi
ruang sekretariatan tertawa semua dan bahagia dalam kebersamaan, khususnya
mendapat kabar baik seperti ini.
Dua
bulan lagi kami akan berangkat ke Malaysia untuk membawa musik gamelan Jawa
yang khas. Ini bukan kesempatan yang biasa, khususnya bagiku. Keadaan ekonomi
yang cukup untuk membayar uang kuliah pun sudah sangat disyukuri. Tidak semudah
orang yang berkecukupan untuk sengaja liburan ke luar negeri. Walau hanya
terbang ke negara tetangga, belum terlalu jauh, kami tetap bangga. Berproses
dengan waktu yang cukup singkat untuk menyuguhkan pertunjukan yang “wow” selama
15 menit di atas panggung megah adalah hal istimewa yang kami dapatkan di kota
istimewa. Yogyakarta berhati nyaman. Yogyakarta Istimewa di hati.
Tahun
ini… 2018
Melestarikan budaya bukan hal yang
mudah. Menjaga tradisi dan unggah ungguh dalam bermain ada peraturannya semua.
Aku mencintai Indonesia dengan mencintai budayanya. Aku turut berperang melawan
budaya barat yang masuk. Bukan tidak mau menerima, tapi ambilah sisi baiknya.
Namun dengan kebebasan budaya yang masuk ini, banyak “bule” yang lebih mahir
dalam bermain gamelan Jawa, berbicara menggunakan bahasa Jawa dan membawa serta
memperkenalkan budaya Indonesia ini ke mancanegara.
Sangat disayangkan jika ternyata
masyarakatnya sendiri tidak mampu menjaga budayanya. Kemajuan teknologi saat
ini juga dimanfaatkan pemuda untuk menghasilkan karyanya lewat film atau video
pendek contohnya. Dengan seringnya aku pentas bersama tim gamelan ukm ini,
banyak tawaran untuk membuat suatu video cover song. Memadu padankan musik
modern dengan music gamelan yang cukup tradisional ini. Karya itu nantinya
dapat diunggah pada konten Youtube misalnya untuk dipertontonkan kepada
khalayak bahwa Indonesia mampu menjaga budayanya dan membuka hati untuk budaya
lainnya tanpa melupakan budayanya sendiri.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar