Jumat, 15 Mei 2020

Dari Tradisional Menuju Internasional



12 tahun yang lalu…
Halo kak, namaku Bintang. Umurku 10 tahun. Sekarang aku duduk di kelas 5 sekolah dasar. Saat kakak membaca cerita ini, berarti aku mulai dewasa. Sudah saatnya aku menggantikan peran para pahlawan yang gugur di medan perang. Tapi kali ini berbeda. Aku tidak akan berperang melawan penjajah bersenjata di medan perang, melainkan aku akan berjuang mempertahankan kehormatan bangsa yang telah merdeka. Merdeka karena perjuangannya. Merdeka karena pejuang cerdik yang memanfaatkan momen ketika negara sekutu di bom atom.
Waktu sekolah di taman kanak-kanak dulu, akulah yang paling semangat belajar lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu nasional lainnya. Suara lantangku mengalahkan suara ibu guru Rini yang memberikan arahan saat mengajarkan lagu Garuda Pancasila. Oh iya, dulu aku pernah bermain-main dengan lagu ini hehe.
Garuda pancasila
Pa tani nduwe ayam
Pa nduwe pitik
Pa tani nduwe paaaaaaa….tung.
“Patung bergerak mati! 1! 2! 3! … 10!”
“LARRRIIIIIIII!!!”
Hitungan ke-10 akupun berlari dikejar oleh musuh yang siap menangkapku. Kalau aku tertangkap, bisa kalah aku dari permainan ini. Kakak pernah bermain seperti itu? Berarti kita seumuran hehehe..
Aku lahir tanggal 20 Mei 1996, tepat dihari Kebangkitan Nasional yang identik dengan perwujudan Indonesia yang bekerja nyata dan berkarakter. Pokoknya hari-hari nasional seperti itu juga merupakan suatu perwujudan kemerdekaan Indonesia. Makin bangga aku lahir di bumi pertiwi ini. Mampu memimpin upacara bendera di sekolahku dan turut hikmat dalam merenungi jasa-jasa para pahlawannya. Tiap tarikan bendera untuk dikibarkan, pembacaan UUD 1945 dan pembacaan Pancasila mengingatkanku selalu tentang Indonesia.
3 tahun yang lalu…
“Jogjaaaaaaa!! I’m coming!!!” seraya aku berseru saat melihat pengumuman ujian tulis perguruan tinggi negeri. Nyatanya aku akan merantau ke tanah Jawa lain. Mulai beradaptasi dengan budayanya, unggah-ungguhnya dan menghormati segala bentuk keramahan yang ditawarkan kota pelajar ini.
Pengalamanku saat kecil mampu memupuk rasa cinta terhadap Indonesia. Aku tidak tahu apakah dengan lahir dihari kebangkitan nasional, menjadi pemimpin upacara dan mengikuti eksul baris-berbaris di sekolah termasuk dalam hal cinta Indonesia atau tidak. Sebenarnya dalam mencintai Indonesia sendiri sudah banyak menjadi konten di berbagai hal. Misalnya saja cinta terhadap budayanya atau mengutamakan ke Bhinnekaannya, yang jelas sudah banyak orang membuat konten cinta akan Indonesia. Dalam bentuk apapun karyanya, mulai dari film, lagu, sastra dan sebagainya.
Kali ini dikota yang sangat istimewa, aku diberi kesempatan untuk belajar banyak diluar zona nyamanku. Seperti biasa, setiap mahasiswa baru diperkenalkan dengan himpunan, unit kegiatan mahasiswa dan organisasi lain sesuai dengan minat bakatnya. Saat itu diadakan expo UKM selama tiga hari. Dari ujung ke ujung mencari dan memilih UKM yang tepat untukku, Entah mengapa hatiku tertuju pada unit kegiatan mahasiswa sekber seni, khususnya kesenian tradisional. Well, kukira yang berminat dengan UKM ini hanya sedikit, ternyata hamper 600 peserta mendaftar didalamnya. Bayangkan saja, bagaimana UKM ini menampung begitu banyak peserta pada saat itu.
“Iki hlo, UKM hits. Lek gak melu sayang banget.”
“Opo sih iki mas?”
“Iki jenenge Unit Ketemu Jodoh.”
“Eh hla kok ngawur! Iki jenenge Unite Kesenian Jawa.”
“Ohiya, maksudku ngunu hlo! Ya ayo adek-adek silakan bergabung bersama kami. Yo k segera daftarkan dirimu! Stand kami terbuka untuk siapa saja.”
Begitulah promosi anggota baru ukm seni ini. Cukup menarik dan menghibur. Penuh dengan semangat mengajak mahasiswa baru untuk bergabung di dalamnya.
2 tahun yang lalu..
Sudah 2 tahun aku menjadi bagian dari unit kesenian Jawa ini. Termasuk menjadi pengurus harian di dalamnya. Ternyata banyak sekali kesempata yang membawa diri menuju pengembangan yang lebih baik. Tadinya tidak mengerti apa itu imbal, seleh, sekaran dan macam lainnya, kali ini menjadi lebih pro bermain gamelan. Selama bergabung disini, akupun banyak mengikuti event kecil sampai besar. Dari manggung di kampung seni sampai manggung di panggung mewah nan megah. Dari event kampus sampai event event kerjasama dengan tempat pariwisata seperti candi yang terkenal khas dengan kejawannya.
“Baik, kali ini kesempatan bagi pengurus harian yang berangkat keluar.”
“Hah? Keluar Jawa pak? Nanti berubah nama dong, Pak! Jadi unit kesenian….”
“Hahaha, bukan. Ini lebih asik, ke luar negeri!! Wih ngeri nan gak weee…”
“Tenan e pak? YA ALLAH!!” semua pengurus harian ukm sujud syukur dengan kesempatan ini.
“Arep nggo lagu nopo iki pak?”
“Mengko sek, ta garapke lagu Lindur.”
“Weh pak, ndak ngelindur tenanan ngko pas nabuh.”
“Hwahahaahhahaha!!! Sek ngendang gegara ngelindur nabuhe bedhug nggih Pak!”
Seisi ruang sekretariatan tertawa semua dan bahagia dalam kebersamaan, khususnya mendapat kabar baik seperti ini.
Dua bulan lagi kami akan berangkat ke Malaysia untuk membawa musik gamelan Jawa yang khas. Ini bukan kesempatan yang biasa, khususnya bagiku. Keadaan ekonomi yang cukup untuk membayar uang kuliah pun sudah sangat disyukuri. Tidak semudah orang yang berkecukupan untuk sengaja liburan ke luar negeri. Walau hanya terbang ke negara tetangga, belum terlalu jauh, kami tetap bangga. Berproses dengan waktu yang cukup singkat untuk menyuguhkan pertunjukan yang “wow” selama 15 menit di atas panggung megah adalah hal istimewa yang kami dapatkan di kota istimewa. Yogyakarta berhati nyaman. Yogyakarta Istimewa di hati.
Tahun ini… 2018
            Melestarikan budaya bukan hal yang mudah. Menjaga tradisi dan unggah ungguh dalam bermain ada peraturannya semua. Aku mencintai Indonesia dengan mencintai budayanya. Aku turut berperang melawan budaya barat yang masuk. Bukan tidak mau menerima, tapi ambilah sisi baiknya. Namun dengan kebebasan budaya yang masuk ini, banyak “bule” yang lebih mahir dalam bermain gamelan Jawa, berbicara menggunakan bahasa Jawa dan membawa serta memperkenalkan budaya Indonesia ini ke mancanegara.
            Sangat disayangkan jika ternyata masyarakatnya sendiri tidak mampu menjaga budayanya. Kemajuan teknologi saat ini juga dimanfaatkan pemuda untuk menghasilkan karyanya lewat film atau video pendek contohnya. Dengan seringnya aku pentas bersama tim gamelan ukm ini, banyak tawaran untuk membuat suatu video cover song. Memadu padankan musik modern dengan music gamelan yang cukup tradisional ini. Karya itu nantinya dapat diunggah pada konten Youtube misalnya untuk dipertontonkan kepada khalayak bahwa Indonesia mampu menjaga budayanya dan membuka hati untuk budaya lainnya tanpa melupakan budayanya sendiri.

***






Minggu, 29 Oktober 2017

Bonus Aktif di Organisasi


            Ada beberapa tipe mahasiswa versi idn times. Coba simak dulu tipe mahasiswa di bawah ini atau baca di link ini.

1. Kupu - kupu (kuliah pulang – kuliah pulang)
2. Kuda - kuda (kuliah dagang - kuliah dagang)
3. Kura - kura (kuliah rapat - kuliah rapat)
4. Kunang - kunang (kuliah nangkring - kuliah nangkring)
5. Kucing-kucing (kuliah cari yang bening-kuliah cari yang bening)
6. Kuman-kuman (kuliah main-kuliah main)
7. Kutu Kupret (kuliah tugas - kuliah presentasi)
8. Kue-kue (kuliah gawe-kuliah gawe)
9. Kumus - kumus (kuliah musik - kuliah musik)
10. Kukur - kukur (kuliah kursus - kuliah kursus)
11. Kuper - kuper (kuliah perawatan - kuliah perawatan)
12. Kusut - kusut (kuliah syuting - kuliah syuting)

         Dari ke 12 tipe di atas, kegiatan yang saya ikuti mencangkup semuanya. UKM atau Unit Kegiatan Mahasiswa yang saya ikuti selama kuliah di Jogja ada di sekber seni. Seni jawa tradisional gaya surakarta bidang tari, karawitan dan pedhalangan bernama UKJGS (Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta), tapi yang saya tekuni disini adalah bidang karawitan. 

     Saya terlalu nyaman bergabung di dalamnya, sehingga ukm ini pantas dibilangnya sebagai tempatnya mahasiswa kuliah pulang ke sekre. Kalau mau menunggu kuliah selanjutnya, datang ke sekre. Kalau sudah kumpul di sekre dengan ruangan yang cukup luas untuk latihan menari, mulailah salah satu dari kami yang berdagang mengeluarkan bakatnya dan mampu menarik kami sebagai penjual produknya pula. Tidak hanya latihan saja, ada kalanya kami mengadakan event besar dengan kepanitiaan yang sudah dipersiapkan. Demi mewujudkan suatu acara yang sukses, perlu diperksiapkan dengan matang dan rutin diadakan r a p a t demi terjaganya koordinasi antar panitia.

          Selepas rapat baik itu rapat kepengurusan atau rapat agenda, biasanya kami nangkring atau nongkrong di sekre disuguhi camilan atau makanan yang dipesan di foodcourt belakang. Segala macam obrolan menjadi satu, termasuk obrolan tentang mahasiswa yang bening atau anak baru yang bening di ukm kami. Namanya juga UKJGS, Unit Ketemu Jodoh Gelem Sikat #ehh. Banyak dari kami yang menemukan pasangannya dan berproses bersama disini.

        UKJGS juga bisa sebagai tempat bermain, bermain PES bersama, bermain gamelan bersama, bermain UNO bersama. Banyak yang dapat kami lakukan bersama-sama disini. Tidak hanya bermain, ada dari kami yang membawa tugas dan membuat presentasi di sekre, ketimbang di kos hanya sendiri saja. Selain kami pentas dalam event sendiri, kadangkala kami diundang untuk mengisi acara atau kami menyebutnya "job", jadi bergabung disini juga bisa bekerja menghasilkan uang dari hasil pembayaran job tersebut.

          Namanya juga karawitan, pasti kami bermain musik jawa atau gamelan aja. Itu adalah hal utama yang dilakukan disini dan rutin diadakan latihan. Tidak perlu kursus diluar. Selama bergabung disini, saya mendapatkan banyak ilmu mengenai teknik bermain gamelan denga bermacam-macam jenis lagu. Jadi tidak perlu membayar lebih untuk kursus gamelan di sanggar.
  
          Banyak anak-anak yang bisa mengajarkan bagaimana merawat diri agar tampil lebih cantik pula, jadi itu adalah bonus mempunya teman dari divisi tari. Dalam kepengurusan kami terdapat divisi media dan humas yang selalu mendokumentasikan dengan rapih hasil kegiatan kami. Entah saat sedang pentas, latihan ataupun kegiatan lainnya, jadi hal ini dianggap kami sedang syuting demi mendapatkan hasil dokumentasi yang bagus untuk memiliki nilai jual yang tinggi. Menurut kalian, saya sendiri berada di tipe keberapa? Sepertinya semua anggota ukm kami akan menjadi mahasiswake 12 tipe di atas.

          Itulah sisi kehidupan mahasiswa yang aktif dengan ke 12 tipe tersebut. Saking aktifnya, biasanya kami diberi "bonus" sebagai hadiah atas apresiasi, komitmen dan keaktifan kami. Sebenernya itu adalah event tahunan kami. Setiap tahun kami diundang untuk tampil di acara Ensemble of Gamelan yang bertempat di Universiti Teknologi Malaysia. Malaysiaaaaaa !! Buat yang belum pernah keluar negeri, itu adalah bonus. Saya sendiri belum pernah keluar negeri sebelumnya, sedangkan kesempatan pertama yang saya dapat ini gratis tiss tiss, disubsidi oleh universitas. Alhamdulillah disini saya bersyukur, biasanya teman-teman ke luar negeri untuk sekedar liburan saja, menghabiskan banyak uang sakunya, tapi disini saya tinggal berangkat saja, siapkan mental untuk tampil dan tambahan bonus liburan disana.

                   




           Selama disana kami melaksanakan pentas 2 hari, hari pertama untuk acara Ensemble of Gamelan seperti foto di atas. Hari kedua tampil di acara FESCO untuk mengiringi tari fragmen ramayana dengan kostum yang berbeda pastinya. Selesai acara di hari kedua, kami langsung bersiap untuk berangkat ke Penang Hill, berlibur sejenak sebelum kembali ke Indonesia. Jadi masih berfikir kalau kuliah hanya berangkat, duduk di kelas, belajar, lalu pulang? Jadilah mahasiswa yang aktif dengan 12 tipe di atas :))            

         

Kamis, 19 Februari 2015

Ora ngapak ora penak



Seluruh Indonesia sepertinya sudah tahu kalau ngapak merupakan bahasa sehari-hari orang Tegal, Jawa Tengah. Logat bahasanya yang khas dan berbeda dibanding dialek bahasa Jawa pada umumnya, mampu membuat orang yang mendengarnya tertawa. Tidak hanya Tegal, kota lain seperti Cilacap, Kebumen, Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara dan sekitarnya memiliki rumpun bahasa yang sama. Banyak orang yang dibuat penasaran dengan bahasa sehari-hari ini, sampai kami sendiri diminta untuk berbicara didepan mereka langsung. Selama merantau di Jogja, saya sendiri berusaha beradaptasi dengan bahasa jawanya yang halus dan sopan. Cara "medhok"nya juga berbeda. Tapi tetap saja, masih kelihatan lebih fasih ngapak dibanding medhok halusnya.

Kalau soal kuliner, kota Tegal tidak kalah dengan kota besar lainnya. Ada tahu aci murni, olos, glotak, soto tegal dengan tauco yag disuguhkan dengan mangkok kecil, teh poci yang biasa dinikmati saat berkumpul dengan harum melati dan manisnya gula batu disuguhkan dengan satu set cangkir poci terbuat dari tanah liat, serta makanan lain seperti kupat glabed, kupat blengong, nasi lengko dan nasi ponggol. Tahu aci merupakan tahu kuning dipotong segitiga dan di atasnya diberi adonan tepung kanji sebagai acinya dengan campuran daun bawang atau kocai diiris tipis lalu dimakan bersama cabe rawit atau ‘tengis’. Olos bahannya sama dengan tahu aci, berisi kubis atau orang Tegal menyebutnya ‘kol’, bawang dan tauge dibentuk bola-bola kecil.


                                       Tahu Aci


                                                                  
                                                    Olos


                                      Soto Tegal


                                                    Glotak

                                            
                                      Nasi Ponggol


Nasi Lengko



Kupat Glabed


Teh Poci


Naahhh ini yang sedikit menjengkelkan. Katanya perempuan ngapak dengan paras cantik kalau sudah ngapak akan turun derajat kecantikannya. Tapi semua itu hanya ungkapan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Buktinya banyak artis cantik yang suka menirukan orang ngapak namun cantiknya masih melekat.

Mau liburan?? Tegal juga punya banyak tempat wisata untuk dikunjungi. Purwahamba Indah (Purin), Pantai Alam Indah (PAI), alun-alun kota Tegal, satu jam dari kota Tegal terdapat wisata alam dan air panas GUCI dan masih banyak lagi.

Inilah sedikit review tentang kota Tegal dan bahasa ngapaknya. Kalem bae, nyong karo koen pada kabeh! 

Dari Tradisional Menuju Internasional

12 tahun yang lalu… Halo kak, namaku Bintang. Umurku 10 tahun. Sekarang aku duduk di kelas 5 sekolah dasar. Saat kakak membaca cerita ...